Sabtu, 12 Desember 2009

GAJAH MADA ASLI DI PANCADATU


JAWA POS RADAR BALI SENIN 19 Juli 2004 : KUTA - Wajah asli patih Gajah Mada dibeber di GWK Culture Park, Minggu kemarin Adalah Hyang Suryo Wilatikto yang membeber keaslian wajah Mahapatih tersohor tersebut. Pembeberan dimuali dari Patung setinggi 25 centimeter yang tangan kanan dan kirinya memgang senjata Gada. Sebuah kalung kombinasi putih kuning menghiasi lehernya, plus leontin bergambar Betara Siwa warna keemasan "Inilah wajah Wajah Mahapatih Gajah Mada yang asli," jelas Hyang Suryo Wilatikto kemarin. Guna meyakinkan argumentasinya, Ketua Pura majapahit [Puri Jenggala] itu juga memberikan bebrapa fakta versinya ternyata menurutnya, Kalung bergambar Siwa itu diyakini nya peninggalan asli Gajah Mada. 'Keturunan Gajah Mada yang di Bali juga pernah menemui saya," katanya. Uniknya dirinya mengakutidak mau kompalin kepada pelukis wajah Gajah Mada. Kenapa yakin ? dari sinilah dia mengungkap kisah tersebut. Menututnya Pratima Gajah Mada Pancadatu [berbahan tujuh logam] itu diyakini sebagai miniatur wajah Sang Patih sesungguhnya setelah melalui rapat, meditasi , Juga mohon izin di Candi Rondo Kuning, Kertososno, Kemudian ada tuliusan China berbunyi" MA DA "Saat itu disaksikan tokoh Purbakala Trowulan Joko umbaran, Lurah Ropndo Kuning dan Sesepuh Majapahit, jelas si Pewaris Patung ini. Keyakinan ini juga didasarkan adanya Mahkota Patih yang dikenakan Patung. sedang Mahkota yang beredar kini adalah mahkota prajurit bukan Patih, Namun yang unik , selama dia di Bali menemukan ada Mahkota Patih Bali yang mirip milik Gajah Mada, "Saya membeli Mahkota itu di Sukawati," katanya sambil menunjukkan benda yang dimaksud. Bagaimana dia mendapat Patung itu ? Menurutnya Patung atau Pratima itu didapat secara turun temurun. Bermula dari runtuhnya Kerajaan Majapahit di Trowulan [1478] Sementara Majapahit Trilokapura [Daha-Jenggala-Kadhiri] masih eksis hingga 1527 hancur saat diserang Trenggono [Putra Raden Patah, Raja Demak] Kejadian itu juga berakibat sama terhadap Madapura , sebelumnya Patung itu diselamatkan ke Trilokapura oleh Arya Gede, Dia adalah Putra Sri Wilatikta Brahmaraja [Ratu Trilokapura]. [djo]. PAMERAN BUDAYA PEMERSATU BANGSA [1] WARTA BALI Minggu Wage, 2 Februari 2003 : Kondisi bangsa yang carut marut dilanda krisis multi dimensional belakangan ini antara lain disebabkan oleh hilangnya kesadaran bangsa ini untuk menghargai para Leluhur, pendahulu bangsa termasuk budaya Adiluhung dijaman kejayaan Kerajaan Majapahit memiliki modal budaya, filosofi dan spirit "Sumpah Palap" yang merupakan cikal bakal lahirnya Sesanti Bhinneka Tunggal Ika [Unity in Diversity] yaitu bersatu dalam keanekaragaman. Demikian antara lain pernyataan DR [HC] Soemadi Kertonegoro {Kanjeng Madi} ketika ditemui WARTA BALI seusai pembukaan Pameran Budaya Permersatu Bangsa di Lake View Batur Kintamani Bangli, Sabtu [1/2]. Salah satu upaya untuk menggali kembali nilai nilai mutiara budaya kejayaan bangsa, Terutama Era kerajaan Majapahit adalah dengan menggelar Pameran Budaya Pemersatu Bangsa, Pameran yang dimulai Sabtu, 1 sampai dengan 28 Pebruari 2003 di Lake View Hotel and Restoran ini dibuka HYANG SURYO WILOTIKTO yang juga Pandito Ratu pada Pura Majapahit dan Ketua IX Keluarga Besar Pendukung Budaya Nusantara Asli / Religi da Adat Nusantara Asli untuk mengurusi kerabat Mojopahit. Senada dengan itu, menurut Hyang Suryo Wilotikto, sudah saatnya bangsa Indonesia, kembali merenungi ke Agungan Budaya Leluhur dengan kembali mengingat dan menghayati serta menyadari nilai-nilai budaya yang pernah membawa kejayaan bangsa pada zaman Kerajaan Majapahit tanpa melihat Agama suku dan Ras. "Sesungguhnya kita ini satu Leluhur, kenapa kita selalu berbeda ketika melihat agama kita beda, justru dengan melihat bahwa budaya kita sama, maka kita akan kembali menyadari arti sebuah persatuan " ungkap Hyang Suryo, Di tengah tengah kerinduannya kepada kedamaian dan kejayaan masa lalu, Hyang Suryo menyitir Sesanti "Ajining Bongso Soko Luhuring Budoyo" yang artinya dihargainya Bangsa karena Keluhuran Budayanya. Sesanti itu ia hubungkan dengan Taurat Hukum kelima yang berbunyi "Hormatilah Orang Tuamu". Menurut Hyang suryo, sebuah bangsa yang selalu kuat memegang prinsip untuk menghormati Leluhurnya adalah bangsa yang besar. Untuk itu, Ia mengambil contoh JEPANG , Jepang dimata Hyang Suryo adalah Negara yang kuat dengan tradisi dan Budayanya kendati pernah hancur berkeping keping akibat di Bom Atom oleh Sekutu. Ia lalu mempertanyakan, kenapa bangsa Indonesia yang pernah mengalami masa kejayaan bahkan sampai tersohor ke seluruh dunia karena kekuasaan Majapahit meluas hingga bebrapa pulau di Philipina justru mengalami keterpurukan yang menyedihkan pada saat ini. Pengempon Pura Majapahit Pusat di Trowulan, Mojokerto Jawa Timur yang hingga kini hidup melajang ini melihat salah satu penyebabnya adalah karena bangsa Indonesia 'Melupakan' budaya Leluhurnya, "Bangsa Indonesia tidak lagi ingat apalagi menyembah Leluhurnya" terang Hyang Suryo. Untuk itu ia mengingatkan semua elemen bangsa untuk kembali sadar bahwa memuja Leluhur merupakan suatu keharusan jika bangsa ini tidak ingin lebih terpuruk kejurang yang lebih dalam lagi. Kanjeng Madi mengingatkan para elit bangsa untuk perlunya menggelar gerakan rekonsiliasi untuk mengembalikan kepercayaan rakyat yang 'Hilang'. Salah satu filosofi yang perlu dipegang menurut Kanjeng Madi ada;ah memegang teguh prinsip kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada yakni Olah Raga, Olah Pikir dan Olah Rasa. "Nilai Luhur dari filosofi Maha Patih Gajah Mada perlu dipegang kembali" terang Kanjeng Madi. Ia jelaskan, olah raga tiada lain untuk mengembangkan emosional manusia, Olah pikir mengembangkan intelektual dan Olah rasa untuk mengembangkan kesadaran. Hanya saja ketiganya harus mengacu kepada nilai kecerdasan. Termasuk didalamnya sifat mensyukuri nikmat Tuhan yang telah dikaruniakan kita. @ tha. inilah Kliping berita dari Hyang Suryo Raja Abhiseka Majapahit Masa kini Sri Wilatikta Brahmaraja XI yang diundang ke Bali karena Pura / Puro / Griyo / Dalem Beliau di Trowulan di tutup dilarang Ritual dan Kegiatan dalam bentuk apapun oelh MUSPIKA Trowulan sejak 11 November 2001 [Komang Edi]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar